TEROPONGKOTA.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menggelar kembali Bedol Pamarayan sebagai bagian dari rangkaian hari ulang tahun (HUT) Kabupaten Serang ke-492.

Pamarayan adalah salah satu wilayah Kabupaten Serang yang dikenal dengan bendungan, yakni saluran irigasi sepanjang ratusan meter yang dilengkapi dengan 10 pintu air berukuran raksasa.

Diameter setiap pintu hampir 10 meter lebih, yang merupakan bangunan utama. Selain itu juga memiliki dua menara yang terletak di sisi kanan dan kiri bendungan.

Untuk menggerakkan setiap pintu air yang dibuat dari baja tersebut, digunakan rantai mirip rantai motor yang berukuran besar.
Sepuluh rantai dikaitkan pada roda gigi elektrik yang terletak di bagian atas bendungan.

Roda-roda gigi yang berfungsi untuk menggerakkan pintu air berjumlah puluhan di dalam 30 bok tipe 1, 2 dan 3 (berukuran sedang) dan roda gigi tipe 4 dan 5 (berukuran besar).

Setidaknya ada 20 as kopel berdiameter sekitar tujuh sentimeter dan panjang 1,5 meter sebagai penghubung roda gigi di setiap pintu air.

Sarana pengairan untuk lahan pertanian itu, dibangun tahun 1901 sesuai dengan almanak yang tertera pada salah satu pintu air.

Berdasarkan catatan sejarah, pengerjaan proyek bendungan itu selesai 1914 dan air mulai disalurkan 1918. Di samping bendungan itu, terdapat bangunan yang digunakan oleh kolonial Belanda untuk membayar upah para pekerja atau biasa disebut warga sekitar yang sebagian besar menggunakan bahasa Sunda sebagai tempat ”Pamayaran”.

Bendungan Pamarayan merupakan salah satu peninggalan arsitektur masa kolonial Belanda di Banten yang masih kokoh berdiri. Dari peninggalan sejarah yang mencatat kejayaan pembangunan di sektor pertanian tersebut, terdapat tradisi “Bedol Pamarayan” atau yang dalam dua tahun terakhir ini dihidupkan kembali dengan nama “Bedolan Pamarayan”.

Bedol Pamarayan dilakukan setiap tanggal sepuluh bulan sepuluh setiap setahun sekali. Tradisi tersebut dimulai sejak zaman Belanda, untuk mencitrakan bahwa bendungan ini adalah milik rakyat. Bedolan Pamarayan yang di masa lampau menjadi pesta para petani saat memasuki musim tanam, kini menjadi pestanya warga Kabupaten Serang dalam merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Serang.

Sebelum bedolan dilakukan, sebanyak 185 ribu ikan disebar di hulu bendungan tersebut. Ini dilakukan sebagai ajang pesta rakyat masa lampu yang terus di tingkatkan.

”Tahun ini rangkaian acara Bedolan Pamarayan dimulai 11 Oktober, diawali dengan gerakan sadar wisata Kabupaten Serang (Gersang). Kegiatannya bersih-bersih lingkungan bersama kelompok sadar wisata dan ajang pesta rakyat,” kata Wakil Bupati Serang , Pandji Tirtayasa.

Tahun ini, Bedolan Pamarayan lebih meriah dari tahun sebelumnya. ””Perbedaan Bedolan Pamarayan tahun ini dengan tahun kemarin itu di pasar rakyat. Kalau dulu expo pameran pembangunan. Tahun ini, kami memang lebih difokuskan ke pasar seni rakyat, di situ juga nanti ada lomba, membatik, membuat gerabah, fashion show batik, itu nanti dari Diskoperindag,” tuturnya.

Untuk mengenalkan acara tersebut ke daerah luar, juga diundang perwakilan dari daerah lain. Di antaranya Dinas Pariwisata dari tujuh kabupaten/kota di Banten dan Kementerian Pariwisata.

”Dari bagian hulu dan hilir kami undang. Kemudian, rencananya juga kami akan undang beberapa kedutaan besar, minimal mereka kan mengajak warga luar negerinya untuk menyaksikan acara bedolan, jadi acara ini bisa go internasional,” Tambah Pandji Tirtayasa.

Sepanjang gelaran festival bedol Pamarayan , sejumlah warga Pamarayan dan Cikeusal yang bekerja di luar daerah seperti di Palembang, Lampung dan beberapa daerah lainnya sudah siap untuk meramaikan acara Bedol Pamarayan.

“Jadi warga yang berada di luar daerah pada mau pulang, karena menuru mereka Bedol Pamarayan itu sudah seperti lebaran bagi masyarakat Pamarayan dan Cikeusal,” tuturnya.

Selain itu, pihak panitia juga sudah berkoordinasi dengan Bidang Sumber Daya Air (SDA) dan Bidang Irigasi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk melakukan sosialiasi kepada masyarakat yang biasa beraktivitas di bagian hilir Bendung Pamarayan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here