TEROPONGKOTA.com – Menghadiri acara debat pro kontra Angkatan Puisi Esai yang diselenggarakan oleh Yayasan Guntur sore tadi (15/02) di Manggarai, tim wartawan Teropong Kota menyaksikan sorak sorai penonton diberikan tanpa henti kepada tim kontra Puisi Esai. Bahkan menurut salah satu peserta yang menghadiri acara itu, debat ini tak sama sekali memuaskan.

“Diskusi tadi amat terlihat timpang dan sebenarnya sudah diketahui sejak awal siapa bakal pemenangnya, yaitu kubu yang kontra terhadap gagasan mengenai adanya Angkatan Puisi Esai. Lihat saja, hampir seluruh argumen mereka yang pro tak menunjukkan kebernasan,” tutur Bandi Robin salah satu aktivis literasi yang sekaligus juga pemilik toko buku-buku antik ketika ditemui selepas acara ditutup.

Selain itu, justru ada yang menarik di tengah-tengah sesi pertanyaan berlangsung, ketika seorang penanya memberikan satu bingkisan kepada Saut Situmorang sambil mengatakan ini Bir Reformasi.

“Tadi saya sengaja tidak menanggapi terlalu banyak dan memperpanjang perdebatan yang sebenarnya sudah saya anggap selesai melalui Petisi Penolakan Proyek Puisi Esai. Kesempatan ini justru saya gunakan untuk mengatakan kepada seluruh publik sastra untuk berhenti berdebat soal puisi esai dan kembali pada perdebatan yang seharusnya yang lebih subtansial, yaitu menanggapi esai Sastraku Sayang Sastraku Malang milik Saut,” ungkap Shiny penulis buku puisi Kotak Cinta yang juga sering terlihat membagikan tulisannya mengenai isu ini.

Shiny juga mengatakan bahwa saat ini adalah bukan saat di mana sebuah angkatan baru Puis Esai lahir, tetapi sebuah angakatan reformasi sastra.

“Yang paling penting lagi adalah, saat ini bukanlah waktunya kita bicara mengenai apa itu Angkatan Puisi Esai atau sejenisnya yang tak memiliki urgensi kebudayaan sama sekali, tetapi lebih ke jantung masalah, yaitu meneruskan agenda pengevaluasian kritis terhadap berbagai lembaga yang memang berkepentingan terhadap kesusastraan Indonesia saat ini, lembaga apapun yang justru cenderung menopang praktik berbagai manipulasi sejarah sastra. Kita butuh reformasi sastra yang lebih menyeluruh dan bersifat struktural agar kesusastraan kita tidak membusuk,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Shiny mengatakan bahwa arti dari reformasi sastra berarti mencabut mandat Presiden Penyair yang selama ini disematkan kepada Sutardji, untuk kemudian diserahkan kepada Saut Situmorang.

“Lah iya. Bagi saya atau kita semua generasi muda, reformasi sastra itu berarti kita mencabut penyematan Presiden Penyair Sutardji yang sejauh ini terlihat tak memberikan sikap terhadap isu ini, dan sekaligus menyerahkannya kepada Saut Situmorang yang jelas-jelas telah memperjuangkan berbagai kritik atas kondisi sastra kontemporer kita paling tidak spuluh tahun belakangan. Ini penting untuk sastra kita, apalagi dalam momentum 20 tahun reformasi Indonesia bulan depan,” tutupnya.

Meskipun acara sudah ditutup secara resmi oleh moderator, nampaknya Yayasan Guntur masih ramai oleh mereka yang bergantian hendak membacakan puisi, tak terkecuali Saut Situmorang. (sn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here