TEROPONGKOTA.com – Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol. Muhammad Iqbal menjadi pembicara diskusi publik bertajuk “Sikap Cerdas Generasi Milenial: Menangani Hoaks dengan Konstruktif Solutif”.

Iqbal maminta semua elemen mewaspadai peredaran berita hoak, dan mengedepankan rasa nasionalisme. Menurut Iqbal, jika tak diwapadai dan diperangi secara bersama-sama hoaks cukup berbahaya dan dapat memproraporandakan keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa.

“Tunjukkan rasa nasionalisme kita. Jangan korbankan NKRI,” ujar Iqbal dihadapan ratusan peserta diskusi yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) di kantor PGK, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Rabu (20/2/2019).

Menurut Iqbal, jumlah kasus hoaks terus bertambah dan Polri tidak akan membiarkan masalah tersebut terus beredaran. Kendati demikian, Iqbal menambahkan bahwa Polri masa adala Polri yang promoter.

“Kami melakukan terobosan berbasis IT dan melakukan pendekatan pre-emtif dan preventif melalui sosialisasi literasi media dan solusi bernuansa kekinian,” katanya.

Lebih lanjut, Iqbal mengatakan tidak semua kasus hoaks yang ditangani Polri diproses dan dilanjutkan ke persidangan. Misalnya, kata Iqbal, selama 2018 ada 52 kasus yang ditangani Polri.

“Tapi hanya 18 yang dilanjutkan ke persidangan,” katanya

Iqbal mencontohkan kasus yang ditindak Polri dengan capat adalah kasus hoaks gempa susulan di Palu, kasus Ratna Sarumpaet, hoaks pernyerangan tokoh agama sebagai tanda kebangitan PKI, 7 kontainer surat suara sudah tercoblos. Sebab, beberapa kasus tersebut cukup meresahkan masyarakat.

Menurut Iqbal, upaya Polri mencegah hoaks adalah preventif guna memberikan edukasi melalui diskusi dengan pakar, baik informal maupun santai.

“Misalnya millenial road safty festival, goes to campus, kampanye anti hoaks, lomba dan event, silaturahmi Kamtibmas dan lain-lain,” katanya.

Hal yang sama juga dikatakan pengamat politik, Muhammad Qodari. Menurutnya, fenomina penyebaran hoaks di era digital telah membuat kecemasan dan keprihatinan masyarakat.

Menurut Qodari, sejak media sosial eksis dan dimanfaatkan secara luas untuk berkomunikasi, sekaligus menyampaikan isi hati, pikiran, hoakpun bermunculan. Medos sendiri diketahui didominasi generasi milenial.

“Generasi milenial merupakan kolompok yang rawan terpapar hoak, tidak sedikit diantara mereka tanpa berpikir panjang langsung menshare informssi yang tidak jelas, bahkan juga ada yang memproduksi ulang informasi tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkam setelahanya,” tambahnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here