TEROPONGKOTA.com – Duta Besar Ukaraina untuk Indonesia Volodymyr Pakhil mengecam keras serangan bersenjata oleh Angkatan Laut Rusia terhadap kapal yang menyeberangi laut Pelabuhan Odesa ke Pelabuhan Mariupol pada Senin (25/11/2018) lalu, sehingga menyebabkan beberapa awak kapal mengalami luka-luka.
Menurut Pakhil, serangan tersebut merupakan bentuk lain dari agresi bersenjata yang dilancarkan oleh Federasi Rusia terhadap Ukraina seperti yang tertulis dalam Pasal 2 Piagam PBB dan ketentuan Resolusi Sidang Umum PBB 29/3314 tanggal 14 Desember 1974 tentang deifini dari agresi. Rusia secara de facto telah memperluas agresi militernya terhadap Ukraina hingga ke laut.
“Untuk pertama kalinya militer Rusia secara resmi memerintah untuk menembak kapal Ukraina dalam rangka menarget warga negara Ukraina. Kami memiliki semua bukti tak terbantahkan bahwa agresi ini, serangan terhadap kapal perang Angkatan Laut Ukraina bukanlah sebuah kesalahan, bukan sebuah kecelakaan, tetapi tindakan yang disengaja. Termasuk penggunaan senjata terhadap pelaut Ukraina,” kata Pakhil dalam rilis yang diterima Teropongkota.com pada Rabu (28/11/2018).
Serangan tersebut, lanjut Pakhil, telah menunjukkan bahwa Federasi Rusia tidak akan berhenti melakukan kebijakan agresif dan siap untuk melancarkan aksi agresi apapun terhadap negara Ukraina.
“Rezim Kremlin adalah pihak yang harus bertanggung jawab secara penuh untuk dampak dari situasi di Laut Azov dan Hitam dan karena telah mengacaukan perjanjian damai atas konflik bersenjata Rusia-Ukraina,” tegasnya.
Berdasarkan situasi ini, Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional (NSDC) Ukraina menyetujui keputusan Presiden Ukraina untuk mengumumkan Darurat Militer. NSDC menggangap penting untuk mengumumkan rezim hukum khusus di Ukraina demi menciptakan kondisi yang dapat menangkal agresi bersenjata dan menjamin keamanan nasional, menyingkirkan ancaman terhadap kemerdekaan dan integritas teritorial Ukraina.
Berdasarkan izin dari Presiden, pada tanggal 26 November 2018 Parlemen Ukraina memberlakukan Darurat Militer selama 30 hari. Pemberlakuan Darurat Militer ini bukan berarti sebagai pernyataan perang kepada Rusia. Ukraina siap untuk menyelesaikan situasi ini dengan cara politis dan diplomatis, dan di saat yang bersamaan juga siap untuk menggunakan seluruh kekuatannya untuk membela diri.
“Ukraina mendorong untuk sekutu dan mitranya, termasuk Republik Indonesia sebagai kekuatan regional dan global yang berpengaruh, untuk sekali lagi menyebarluaskan dukungan terhadap integritas teritorial dan kedaulatan Ukraina serta mengambil semua langkah yang memungkinkan untuk mencegah Federasi Rusia sebagai negara agresor,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here