Jakarta – Afrika Selatan masuk jurang resesi. Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat terkontraksi -51% secara tahunan (year on year/yoy) di kuartal II-2020, setelah kuartal I-2020 terkontraksi -1,8%.

Angka itu adalah penurunan paling tajam sejak tahun 1990 dan memperpanjang resesi hingga kuartal IV-2020. Bahkan ini merupakan periode kontraksi kuartalan terpanjang berturut-turut sejak 1992.

Anjloknya pertumbuhan ekonomi tersebut tidak lain karena disebabkan oleh lockdown untuk menghindari penyebaran virus Corona (COVID-19) sehingga menghantam ekonomi.

Dilansir Bloomberg, Rabu (9/9/2020), terbatasnya mobilisasi masyarakat Afrika Selatan membuat ekonominya masuk ke dalam resesi terpanjang dalam 28 tahun, dengan kontraksi PDB lebih tajam dari perkiraan.

Untuk diketahui, lockdown secara nasional mulai ketat diterapkan pada 27 Maret hingga memperdalam kemerosotan ekonomi yang terjebak dalam siklus penurunan terpanjang setidaknya sejak Perang Dunia II.

Saat lockdown, masyarakat hanya boleh keluar rumah untuk membeli makanan, mengumpulkan tunjangan kesejahteraan dan mencari perawatan medis kecuali mereka menyediakan layanan penting.

Sementara pembukaan kembali ekonomi secara bertahap dimulai pada 1 Mei, banyak perusahaan menutup secara permanen atau memecat pekerja selama penutupan.

Median estimasi dari 17 ekonom dalam survei Bloomberg memperkirakan penurunan 47,2% dari kuartal sebelumnya. Secara tahunan (year-on-year/yoy) ekonomi After terkontraksi 17,1%, lebih dalam dari perkiraan median sebesar 16%.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here