Prof. Amir Santoso

Sebuah pemikiran dari Prof. Amir Santoso Rektor UJ

 

Prof. Amir Santoso

TEROPONGKOTA.COM | JAKARTA – Semua perbedaan pendapat itu sebaiknya diselesaikan melalui musyawarah mufakat. Janganlah sedikit-sedikit lapor polisi. Sepertinya sekarang ini sesama anak bangsa sudah tidak mau lagi bertatap muka untuk berunding dan mendiskusikan persoalan mereka.

Kenapa seolah olah mereka asing satu dengan yang lain? Boleh jadi perekat antar kita sebagai satu warga bangsa sudah melemah bahkan mungkin sudah tidak ada lagi. Masing-masing melihat pihak lain bukan sesama satu bangsa melainkan sebagai musuh atau bangsa lain. Persahabatan sudah tidak ada lagi.

Kasihan Sukarno, Hatta dan semua pendiri bangsa yang telah bersusah payah menyatukan kita dari Merauke hingga Sabang. Upaya dan perjuangan mereka sia-sia karena “keturunan” mereka tidak lagi merasa sebagai satu keluarga bernama bangsa Indonesia. Agama, Suku, Ras, dan Jabatan telah membuat jarak antar sesama anak bangsa.

Sebenarnya semua persoalan antar manusia ini tidak ada yang tidak bisa diselesaikan melalui diskusi atau musyawarah. Bahkan semua peperangan selalu berakhir di meja perundingan. Tapi rasanya tidak ada pihak yang bersedia memprakarsai dialog nasional untuk merekatkan kembali persatuan bangsa. Mengapa? Karena masing-making hanya memikirkan kepentingan diri, kelompok atau partainya.

Bagi sebagian orang, kekuasaan pemerintahan saat ini tidak lagi dilihat sebagai sarana dan wahana untuk memajukan dan menyatukan bangsa dan negara, tapi dijadikan tujuan untuk memuaskan nafsu pribadi akan harta dan hak milik.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Ini karena watak manusia ingin selalu memuaskan nafsunya. Salah satu sarana yang bisa digunakan sebagai pemuas nafsu adalah kekuasaan pemerintahan yaitu pemerintahan yang tidak memiliki perangkat pengawasan yang kuat, mandiri dan efektif. Atau juga karena ada rakyat yang tidak peduli terhadap prilaku para pemimpinnya dan sifatnya munafik. Rakyat yang tidak peduli akan menghasilkan pemimpin yang tidak peduli, rakyat yang bodoh menghasilkan pemimpin bodoh, rakyat munafik hasilkan pemimpin munafik dan seterusnya.

Kekuatan yang merusak perekat kebangsaan itu juga bisa dicari pada sistem politik dan sistem ekonomi yang dianut saat ini. Pilpres Langsung yang dianut sejak mulainya Reformasi, juga sistem pemilu dengan banyak partai telah melahirkan perpecahan sosial yang luarbiasa. Warga bersaudara bisa saling bunuh karena mendukung calon presiden dan partai yang berbeda. Sedangkan sistem ekonomi yang diterapkan dewasa ini telah melahirkan kesenjangan sosial kaya-miskin yang juga luarbiasa dan hanya menunggu waktu untuk terjadinya kerusuhan sosial.

Memang mengherankan mengapa buah pikiran para pendiri bangsa seperti Sukarno, Hatta, Syahrir, Supomo dan lain-lainl yang menginisiasi pembentukan negara kekeluargaan berdasar semangat gotong royong, kini diubah dengan sistem politik dan ekonomi individualistik yang berbasis budaya asing.

Perubahan basis budaya asli kita dengan budaya asing dalam sistem politik dan sistem ekonomi tersebut jelas merupakan pelecehan dan penghinaan sekaligus pengkhianatan terhadap cita-cita dan buah pikiran para pendiri bangsa. Dan kini kita sedang menuai kutukan para pendiri bangsa akibat penghinaan dan pengkhianatan yang kita lakukan itu.

Sejarah selalu memberikan pelajaran. Tinggal kitalah yang mau atau tidak untuk belajar dari sejarah tersebut. Salah satu cara untuk belajar dari sejarah adalah dengan menerapkan lagi sistem politik dan sistem ekonomi yang digagas oleh para pendiri bangsa.

Bukankah mereka telah mewariskan Pancasila, UUD 1945 Asli, yang semuanya berbasiskan Gotong Royong, Musyawarah-Mufakat, yang intinya adalah menganggap semua komponen bangsa kita sebagai satu keluarga. Mereka sudah mewariskan kepada kita suatu pedoman hidup bernegara dan berbangsa yang bagus sekali.

Tapi sayangnya kita telah menjadi orang dungu yang mencampakkan warisan berharga yang luar biasa tersebut lalu tanpa malu bersedia menjadi antek asing dengan tukaran duit yang tidak seberapa.

Salam hormat dari beliau untuk semua kawan-kawan di wag Komenwa
(Guru Besar Ilmu Politik FISIP UI; Rektor Universitas Jayabaya, Jakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here