Foto (istimewa) Faizal Assegaf, Ketua Progres 98

JAKARTA, TEROPONGKOTA.com – Ciutan BEM UI menandakan kalau kita mundur dalam tataran demokrasi, tema-tema seperti ini malah mundur secara demokrasi. Menurut Ketua Umum Progres 98, Faizal Assegaf bahwa apa yang dilakukan oleh BEM UI tidak mewakili sebagai seorang rakyat ataupun kelompok intelektual, sehingga demokrasi indonesia mundur karena isu yang terus berputar pada itu-itu saja.

“Saya mengamati sebagai seorang rakyat, apakah cuitan BEM UI itu menyuarakan suara rakyat? Menurut saya tidak. Apakah mewakili kaum intelektual? tidak juga, apakah ia bagian dari dinamika berdemokrasi , iya karena mereka berpendapat,” tutur Faizal Assegaf yang merupakan pendiri Alumni 212, pada acara webinar nasional yang diselenggarakan oleh PB IKAMI SULSEL, jakarta (24/07).

Lanjutnya, justru BEM UI hanya mempertontonkan sebuah propaganda, mereka seperti kehilangan visi, kehilangan narasi. Sehingga cuitan BEM UI sangat tidak tepat, karena mahasiswa seharusnya tidak terjebak seperti itu.

Terang Faizal, Mahasiswa sekarang harus punya selera yang lebih jauh dari kelompok 98, kalau 98 mampu merubah dari sentralistik kekuasaan orde baru menjadi desentralisasi, adek-adek mahasiswa sekarang ini harus keluar dari itu, sudah harus bicara soal nuklir, sudah mampu membuat desertasi sistem negara modern di level ASEAN dan di level ASIA Tenggara.

“Karena era sekarang berbeda dengan era di masa saya, sekarang teknologi terbarukan, seperti ditandai dengan adanya media sosial, informasi sekarang lebih canggih dibanding di era saya. Maka mahasiswa Indonesia tidak boleh bicara politik, mau koreksi penguasa percuma, reformasi sudah menghasilkan semua lembaga-lembaga negara yang begitu banyak,” kata aktivis 98 ini.

Sehingga, terjadi kemunduran kalau mahasiswa masih berbicara tentang the king of lip Service, sudah tidak subtansial. Harusnya mahasiswa yang ditampilkan adalah gagasan ide yang siap digunakan yang bisa ditawarkan ke pemerintah, itu jauh lebih bagus dibandingkan dengan merespon isu-isu yang tidak subtansial.

“Di negara–negara barat anak-anak mudanya revolusioner di bidang IT, revolusioner agresif di bidang pertanian, revolusioner agresif di bidang strategis, mereka bahkan sudah menunjukkan pesan kepada dunia bahwa mereka jenuh dengan interaksi bumi, karena ruang lingkupnya dianggap kecil jadi mereka masuk ke fase yang lebih tinggi, mereka bicara mars, nasa mereka bahkan berbicara tentang strategis perubahan global,” papar Faizal.

Di tempat yang berbeda Mantan Ketua BEM UI dan Politisi PSI, FaldoMaldini menjelaskan bahwa BEM UI melakukan sebuah narasi yang sudah banyak dilakukan oleh buzzer yang menyerang pemerintah. Lalu, menurutnya apa perbedaannya mereka dengan buzzer tersebut.

“Misalnya, BEM UI mengkritik omnibus law, padahal posisinya yang masih on proses. Serta soal UU ITE yang juga masih berjalan prosesnya,” pungkas Faldo yang merupakan mantan politisi PAN ini.

Sebagaimana diketahui, PB IKAMI SULSEL mengadakan webinar bertajuk “Menguji Cuitan BEM UI; dalam Sorotan Akademisi dan Basis Data,” yang digelar secara daring Zoom Meeting, pada Sabtu (24/07). Hadir berbagai narasumber diantaranya; Peneliti Civil Watch Ade Armando, Ketua Progres 98 Faizal Assegaf, peneliti senior LIPI Prof Siti Zuhro, dan Ketum DPP HMPI Andi Fajar Asti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here