Oleh. :
Datep Purwa Saputra.
Ketum Pramarin/ Dankomenwa.

Kisah sebagai Tim pengawas pembangunan kapal Bukut Raya di galangan Yos L Meyer Papenberg Jerman dan ikut menyeberangkan dari Jerman ke Tanah Air.

Galangan Jos L Meyer sebuah galangan Kapal tertutup terbesar di dunia, ketika menyebrangkan ke Tanah Air pada bulan Juli 1994 saya ditugaskan sebagai crew dengan sijil awak kapal sebagai perwira nautis (mualim II/ second officer).

Saya dengan Tim Pengawas Pembangunan KM Bukit Raya tahun 1994

Bettelment adalah sebuah desa kecil di kota Papenberg Jerman.
Desa kecil inilah tempat tinggal kami karna jaraknya dekat dengan galangan Joss L meyer.

Bettelment perbatasan atara Jerman dan Belanda, desa ini adalah tempat pertempuran antara Belanda/Sekutu dan Nazi.
Setiap Sabtu dan Minggu atau hari libur kami selalu bersepeda mengelilingi desa, sawah, kebun gandum dan padang rumput makanan sapi perah, bahkan sampai ke perbatasan.

Pada musim dingin dengan temperatur -10 derajat celsius KM Bukit Raya mulai diluncurkan, seluruh crew dan Nakhoda sudah lengkap berada di atas kapal dengan seragam navy blue pakaian kebanggaan pelaut. Kami berangkat meninggalkan Jerman menyusuri sungai sampai di muara laut atlantik.

Dalam pelayaran di Selat Inggris KM Bukit Raya di pandu oleh 4 Pandu secara bergantian. Inggris Chaenal adalah merupakan wajib pandu untuk setiap kapal yg melewati selat inggris yang tentunya juga diwajibkan membayar jasa pandu yang mahal dan menjadi penghasilan negara itu.

Saya dan sahabat-sahabat Tim Pembangunan kapal

Lepas dari Selat Inggris kapal terus berlayar melewati Teluk Biscay yang terkenal ganas ombaknya, karna teluk ini dengan posisi melintang lautan atlantik dengan badan kapal sehingga kapal mengoleng yang cukup besar.

Bukit Raya terus belayar, pada hari ke 10 memasuki Terusan Zues dengan suasana yang seram karna penjagaan kedua Negara yaitu Mesir dan Israel yang ketat dengan mengunakan seragam tentara dan senjata otomatis bahkan mereka ada pada senjata anti serangan udara dan ada pula yang di atas tank baja.

Di Laut Merah kami dihadapkan pada keadaan yang tidak pernah ada di Perairan Indonesia yaitu badai pasir.
Pasir menyiram seluruh badan kapal diiringi angin yang kencang, kami masuk ke kamar masing2. Wah seram suara pasir menyiram badan kapal.

Selepas Laut Merah, kami kembali bermain dengan omak daerah pulau Socotra di Teluk Aden, tak hanya itu kami juga menikmati ombak dan alun (swell) yang besar selama pelayaran dg haluan sejati Colombo dan terus menuju Tanjung China atau Teluk Semangka mendekati Selat Sunda dan akhirnya kami sampai di Tanjung Priok.

Kapal buatan Meyer werft Jerman dengan kontruksi dan sertifikasi Germaniser Lloyd dan BKI menjamin standarisasi kelaikan kapal sesuai IMO Convensi seperti Solas 74, ILL 66, TMS 69, Colreg 72, Marpol 73/78 dan kecakapan pelaut yang baik (good seamanship) sesuai STCW 78. Sangat kuat menghadapi cuaca buruk, alun dan omak.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Nakhoda KM Bukit Raya Capt Urip Tjahyadi yang selalu memberikan semangat pada kami bahwa kapal ini memiliki stabilitas yang baik dan memiliki kontruksi yang kuat sehingga tidak pelu khawatir kalau kapal miring karna akan memiluki moment penegak (righting moment) atau akan kembali tegak walau kapal sudah miring mencapai sudut lebih dari 35 derajat.

Akhirnya pada hari ke 26 kapal Bukit Raya tiba di tanah air dan sandar di pelabuhan Tanjung Priok.

Kami disambut gembira oleh pimpinan Pelni dan keluarga yang sudah lama menunggu.

Terima kasih sahabat-sahat ku ABK Bukit Raya 94. Teriring doa saya pajatkan pada Allah Swt kepada orang-orang yang saya cintai dan telah mendahului ku yaitu:
Capt. Urif Cahyadi (Nakhoda). Capt Sri Suyatno (Mualim I) dan Istriku tercinta Ika Farida yang telah menjaga anak-anak ku dikala aku bertugas dan berlayar. Semoga berbahagia di sisi Allah.(dps)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here